Jumat, 16 Maret 2012

10 Manfaat Tembakau


Pada umumnya masyarakat hanya mengetahui Nicotiana Tabacum atau yang dikenal sebagai tembakau sebagai bahan baku utama rokok, dan tentu saja banyak yang menganggap daun ini hanya memiliki dampak negatif, namun ada baiknya jika anda mengetahui 10 manfaat daun ini.
1. Hasilkan Protein Anti Kanker
Tembakau tidak selalu berkonotasi negatif sebagai penyebab kanker, ternyata tanaman tersebut dapat pula menghasilkan protein anti-kanker yang berguna bagi penderita kanker, kata peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR Arief Budi Witarto MEng, demikian seperti dikutip Antara.
“Protein dibuat oleh DNA dari tubuh kita, kita masukkan DNA yang dimaksud itu ke tembakau melalui bakteri, begitu masuk, tumbuhan ini akan membuat protein sesuai DNA yang dimasukkan. Kalau tumbuhan itu panen, kita dapat cairannya berupa protein,” katanya.
Selain untuk protein antikanker, GSCF, ujarnya, bisa juga untuk menstimulasi perbanyakan sel tunas (stemcell) yang bisa dikembangkan untuk memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak.
Mencegah kanker mulut rahim :Tembakau mengandung sumber protein yang dapat menstimulasi antibody terhadap human papilloma virus (HPV), yang menjadi penyebab kanker mulut rahim.
2. Melepaskan Gigitan Lintah
Manfaat tembakau, selain bisa diekstrak dan diambil bagian tertentu seperti nikotin yang digunakan di berbagai macam produk baik makanan maupun minuman, tembakau juga bisa kita gunakan untuk melepaskan gigitan lintah kalo lagi di dalam hutan, tembakau juga bisa digunakan untuk insektisida karena nikotin yang terkandung merupakan neurotoxin yang sangat ampuh untuk serangga. Serangga aja mati …. pantes aja kalo manusia bisa mati karenanya.
3. Obat Diabetes & Antibodi
Para ilmuwan berhasil menggunakan tembakau yang dimodifikasi secara genetik untuk memproduksi obat diabetes dan kekebalan tubuh. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal BMC Biotechnology, awal Maret lalu.
4. Anti Radang
Ilmuwan dari beberapa lembaga penelitian Eropa berpartisipasi dalam proyek bertajuk “Pharma-Planta” yang dipimpin Profesor Mario Pezzotti dari Universitas Verona itu. Mereka membuat tembakau transgenik yang memproduksi interleukin-10 (IL-10), yang merupakan cytokine anti-radang yang ampuh. Cytokine adalah protein yang merangsang sel-sel kekebalan tubuh agar aktif.
Kode genetik (DNA) yang mengode IL-10 ditanam dalam tembakau, lalu tembakau akan memproduksi protein tersebut. Mereka mencoba dua versi IL-10 yang berbeda. Satu dari virus, yang lainnya dari tikus. Para peneliti menemukan, tembakau dapat memproduksi dua bentuk IL-10 itu dengan tepat. Produksi cytokine yang aktif cukup tinggi, yang mungkin dapat digunakan lewat proses ekstraksi dan pemurnian.
Langkah selanjutnya, IL-10 hasil tembakau itu diberikan kepada tikus untuk meneliti seberapa efektif ia membangkitkan kekebalan tubuh. Penelitian menggunakan IL-10 hasil tembakau dalam dosis kecil dapat membantu mencegah kencing manis atau diabetes melitus tipe 1. Diabetes melitus tipe 1 atau diabetes anak-anak dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pankreas. Sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita anak-anak maupun orang dewasa.
5. Obat HIV/AIDS
Tembakau juga bisa menghasilkan protein obat human immunodeficiency virus (HIV) penyebab AIDS, yang disebut griffithsin. HIV adalah virus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia. Bedanya, bukan tembakaunya yang menghasilkan protein, melainkan virus tembakaunya.
6. Pemelihara Kesehatan Ternak
Ekstrak tembakau (nikotin 1,68%) mempunyai ptensi untuk membasmi cacing H. contortus. Sebagai akibatnya hasil pengobatan akan memberikan keuntungan bagi para pemelihara ternak, sebab kesehatan ternak tersebut makin baik.
7. Penghilang Embun
Tembakau bisa juga digunakan untuk menghilangkan “embun” pada kaca dalam mobil pada waktu hujan dengan cara menggosokkan tembakau pada kaca tersebut.
8. Obat Luka
Untuk obat luka dipakai ± 25 gram daun segar Nicotiana tabacum, dicuci dan ditumbuk sampai lumat. ditambah minyak tanah ± 25 ml diperas dan disaring. Hasil saringan dioleskan pada luka.
9. Bisnis Tembakau
harga tembakau
10. Sebagai Biofuel
Baru-baru ini, para peneliti dari Laboratorium Bioteknologi Universitas Thomas Jefferson telah mengidentifikasi beberapa teknik untuk meningkatkan kadar minyak nabati dalam daun tanaman tembakau, hal tersebut merupakan langkah awal dalam memanfaatkan tanaman ini untuk keperluan biofuel. Hasil penelitian mereka ini kemudian dipublikasikan di Jurnal Plant Biotechnology.
Menurut Vyacheslav Andrianov, Ph.D., asisten profesor di bidang Biologi Kanker di Lab. Jefferson Medical College of Thomas Jefferson University, tembakau dapat menghasilkan biofuel lebih efisien daripada produk pertanian lainnya. Namun, sebagian besar minyaknya hanya terkandung di dalam biji/ benih tembakau (sekitar 40 persen minyak per berat kering).
Meskipun kandungan minyak nabati biji tembakau telah diuji dan dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel, namun produksi biji tanaman tembakau masih sangat rendah, yakni sekitar 600 kg biji per hektar. Dr Andrianov dan rekan-rekannya kemudian berusaha untuk merekayasa gen penghasil minyak nabati biji tembakau ini agar pembentukan minyak nabati pada tajuk tanaman tembakau seoptimal kadar minyak dari biji tembakau. bisa jadi alternatif energi ngurangin global warming.
Tentang Tembakau
Tembakau (Nicotiana spp., L.) adalah genus tanaman yang berdaun lebar yang berasal dari daerah Amerika Utara dan Amerika Selatan. Daun dari pohon ini sering digunakan sebagai bahan baku rokok, baik dengan menggunakan pipa maupun digulung dalam bentuk rokok atau cerutu. Daun tembakau dapat pula dikunyah atau dikulum, dan ada pula yang menghisap bubuk tembakau melalui hidung.
Tanaman tembakau ditanam di seluruh dunia di lebih dari 100 negara dengan Cina sebagai produsen terbesar, diikuti oleh Amerika Serikat, Brazil, India, Zimbabwe dan Turki. Ada tiga jenis tembakau yang diproduksi dari semua negara-negara itu.
* Virginia, yang juga dijuluki tembakau terang karena warnanya yang kuning ke oranye, diperoleh dari proses flue-curing.
* Burley, yang berwarna coklat setelahmelewati proses air-curing dengan hampir tidak ada; kadar gula, memberikan rasa seperti cerutu.
* Oriental, yang berdaun kecil dan beraroma tinggi dibantu proses sun-curing.
Tanaman ini kasar dan berbau, dengan daun yang besar dan menjurai dari satu pusat batang. Tanaman ini dipotong saat ketinggian tertentu, agar segala kekuatan tanaman itu diarahkan ke perkembangan daunnya yang berharga. Bijinya sangat kecil, satu sendok makan dapat berisi hingga 60.000 biji. Satu tanaman tembakau dewasa dapat menghasilkan jutaan biji.
Masa penuaian tembakau berkisar antara 2-5 bulan setelah bibitnya ditanam, tergantung kepada jenis tembakaunya. Daun tembakau saat dituai berwarna hijau dan tidak mempunyai karakter, warna dan rasa sebelum melewati proses curing atau pengeringan.
Itulah mengapa proses curing yang ada empat macam itu sangat penting dalam penanaman tembakau :
* Air-curing, dilakukan dengan menggantung daun tembakau di tempat terbuka, menghasilkan daun yang rendah kadar gulanya.
* Flue-curing, digunakan terutama untuk tembakau sigaret, dengan menggunakan anas buatan yang disalurkan melalui pipa besi atau flue, menghasilkan daun dengan kadar gula tinggi.
* Fire-curing, yang sama dengan flue-curing, tetapi dengan api terbuka sebagai sumber panas buatannya yang menghasilkan daun coklat tua dan aroma asap.
* Sun-curing, dilakukan di bawah matahari, menghasilkan tembakau kunyah yang manis dan dengan kadar gula yang tinggi. Setelah melewati proses curing, kemudian tembakau yang sudah kering itu di grade dan disimpan untuk diumurkan sesuai kebutuhan.
Tembakau mengandung zat alkaloid nikotin, sejenis neurotoxin yang sangat ampuh jika digunakan pada serangga. Zat ini sering digunakan sebagai bahan utama insektisida.
Penutup
Nah ternyata banyak kan manfaat tembakau selain dibuat menjadi rokok? Sebenarnya masih banyak lagi manfaat positif yang bisa diambil dari tanaman tembakau. -
view : 1819
posted by onyie on Creative - 11 Apr 2011 - 20:41

PERKEMBANGAN TEMBAKAU DI INDONESIA

Sejarah Tembakau
NICOTIANA tabacum (Nicotiana spp., L.) atau lebih dikenal sebagai tembakau (tobacco) ialah sejenis tumbuhan herbal dengan ketinggian kira-kira 1.8 meter (6 kaki) dan besar daunnya yang melebar dan meruncing dapat mencapai sekurang-kurangnya 30 sentimeter (1 kaki). Tanaman ini berasal dari Amerika utara dan Amerika Selatan.
Sejarah tembakau pada mulanya digunakan oleh orang-orang asli Amerika untuk kegunaan perobatan. Sejarah mereka yang penuh dengan lagenda dan mitos banyak dikaitkan dengan tembakau. Ajaran-ajaran kepercayaan mereka juga bersangkut-paut dengan tumbuhan tembakau, di mana asap tembakau dipercaya dapat melindungi mereka dari makhluk-makhluk halus yang jahat dan sebaliknya memudahkan mereka mendekati makhluk-makhluk halus yang baik. Jika Christopher Columbus merentasi Lautan Atlantik untuk pertama kalinya pada tahun 1492, orang asli Amerika yang bermukim di New World telah menghadiahkan beliau daun tembakau dan seabad setelah itu, merokok telah menjadi kegilaan global, dan seterusnya memberi manfaat ekonomi kepada para pengusaha di Amerika Serikat.

Awal Perkembangan Tanaman Tembakau Di Indonesia
Awal perkembangan budidaya tembakau diperkirakan pada abad ke 16, terutama setelah bangsa Eropa yaitu Sepanyol , Portugis, Inggris dan Belanda menemukan dunia baru yaitu amerika. Berbagai informasi turut dibawa ke negrinnya, menambah wawasan dan perbendaharaan mereka termasuk tanaman tembakau.
Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, awal perkembangannya di mulai dari percobaan penanaman tembakau secara besar-besaran di Indonesia dilakukan bangsa Belanda pada tahun 1830 oleh van den bosch melalui “Cultuurstelsel” yaitu disekitar semarang, jawa tengah , namun pada saat itu mengalami kegagalan. Pada tahun 1856, oleh belanda dicoba kembali penanaman tembakau secara meluas di daerah besuki, jawa timur dengan dilengkapi suatu balai penelitian , yaitu besoekisch profstation pada tahun 1910, dengan adannya balai penelitian tersebut maka usaha-usaha guna mendapatkan galur yang cocok dan diinginkan terbuka dengan cara seleksi/hibridisasi menggunakan tembakau yang telah ada / di datangkan dari luar, jenis tembakau besuki cerutu yang sekarang banyak ditanam di besuki tersebut merupakan hasil persilangan antara jenis kedu dengan jenis deli (djojosudiro, 1967). Dua tahuan kemudian , yakni pada tahun 1858 diadakan penanaman jenis tembakau cerutu lainnya di daerah Yogyakarta- Surakarta, tepatnnya di daerah klaten.
Penanaman tembakau juga dilakukan di luar Jawa, yakni di daerah Deli, Sumatra Utara yang dipelopor oleh J. Nienhuys pada tahun 1863. Dan pada tahun 1906 didirikan deli proefstation. Jenis tanah sangat berpengaruh terhadap tanaman tembakau, untuk wilayah deli sekitar S. ular dan anak sungai S. wampulah merupakan derah yang baik untuk tembakau Deli, jenis tembakau Deli merupakan jenis tembakau cerutu paling baik gun akeperluan pembungkusan cerutu.
Ketiga daerah yang disebutkan diatas ( besuki di Jawa Timur, Klaten di Jawa Tengah dan Deli di Sumatra Utara), sekarang merupakan daerah penghasil tembakau jenis cerutu yang sangat potensial bagi Indonesia. Dalam perdagangan internasional khususnnya Eropa , Indonesia masih merupakan pensuplay komoditas tembakau cerutu peringkat atas yang diperhitungkan. Dalam pasaran internasional tembakau Besuki dan Klaten lebih dikenal dengan tembakau Jawa dan tembakau Deli lebih dikenal dengan tembakau Sumatra.

Perkembangan Luas Areal, Produktivitas Dan Produksi Tembakau Indonesia
Secara umum perkembangan luas areal tembakau di Indonesia selama tahun 1971 - 2009 tampak berfluktuatif dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,23%.


Total luas areal tembakau menunjukkan peningkatan pada periode tahun 1971 - 1997 dengan laju pertumbuhan rata-rata mencapai 4,76% per tahun.
Menginjak tahun 1998 - 2009 terjadi kecenderungan penurunan laju pertumbuhan luas areal tembakau menjadi sebesar 0,07% per tahun. Terjadinya penurunan laju pertumbuhan luas areal tembakau pada periode tahun 1990 - 2009, dikarenakan tembakau di Indonesia hanya diusahakan oleh Perkebunan Rakyat (PR) dan Perkebunan Besar Negara (PBN), sementara Perkebunan Besar Swasta (PBS) tidak melakukan penanaman sama sekali.
Perkembangan luas areal tembakau menurut status pengusahaannya, 1971-2009
Kontribusi luas areal tembakau di Indonesia menurut status pengusahaan, (rata-rata 2005-2009)

Berdasarkan status pengusahaannya, rata-rata luas areal tembakau tahun 2005 - 2009 didominasi oleh PR sebesar 97,43%, sisanya 2,57% PBN, sementara tidak ada PBS yang melakukan penanaman tembakau.
Sejalan dengan perkembangan luas arealnya, perkembangan produksi tembakau di Indonesia juga tampak berfluktuatif. Pada periode tahun 1971 – 2009, produksi tembakau Indonesia meningkat dengan dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 7,43% per tahun. Sementara laju pertumbuhan rata-rata pada periode tahun 1998 - 2009 mengalami sedikit peningkatan sebesar 1,53% per tahun. Hal ini dikarenakan, tidak ada kontribusi produksi tembakau yang berasal dari PBS pada periode tersebut. Namun demikian, secara umum terjadi peningkatan total produksi tembakau di Indonesia dari 57,35 ribu ton pada tahun 1971 menjadi 176,94 ribu ton pada tahun 2009.
Secara umum produksi tembakau PR pada periode tahun 2006 - 2009 didominasi oleh 4 provinsi, yaitu: Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Keempat provinsi tersebut memberikan kontribusi sebesar 95,22% terhadap total produksi tembakau Indonesia. Jawa Timur memberikan kontribusi sebesar 48,40%, Nusa Tenggara Barat 27,83%, Jawa Tengah 15,07%, Jawa Barat 3,92%, dan provinsi lainnya hanya memberikan kontribusi sebesar 7,78%.
Kontrubusi sentra produksi tembakau PR di Indonesia, (rata-rata 2006-2009) Berbeda dengan perkembangan luas areal dan produksinya, perkembangan produktivitas tembakau di Indonesia selama empat tahun terakhir (2006 - 2009) cenderung memiliki pola yang seragam sesuai dengan jenis pengusahaannya Rata-rata produktivitas untuk PR dan PBN masing-masing sebesar 0,86 ton/ha dan 0,64 ton/ha.

Jenis Tembakau yang ada di Indonesia
Meskipun terdapat lebih dari 50 species tembakau yang tergolong genus nicotiana, namun hanya 2 species yang mempunyai arti ekonomi cukup tinggi. Kedua species tersebut yaitu nicitiana tabaccum dan nicotiana rustica. Sebagian orang memperkirakan bahwa nicotiana tabaccum bukanlah suatu species, tetapi kelompok yang terdiri dari hibrida- hibrida yang dihasilkan dari persilangan antar nicotiana rustica dan nicotiana petuniodes. Rupanya sejarah pemuliaan tembakau ini, mencatat bahwa orang india mempunyai andil yang cukup besar untuk menghasilkan species yang bermutu seperti sekarang ini. Sebab, beratus- ratus tahun yang lalu perkawinan antar species tembakau ini banyak dilakukan oleh orang indian yang menghuni dataran tinggi di Amerika Tengah dan bagian utara Amerika Selatan.
Perbedaan yang Mencolok diantara kedua species tersebut yaitu kadar nikotinnya. Nicotiana rustica mengandung kadar nikotin tertinggi, yaitu sekitar 16 persen. Sedangkan nicotiana tabacum mempunyai kadar nikotin terendah yaitu sekitar 0.6 %. Dengan demikian, nicotiana rustica banyak untuk membuat abstrak alkalik yang akan dipergunakan sebagai insectisida atau semacam tembakau susur yang dinegara negara barat, india, dan eropa timur dikenal dengan snuff, chewing tobacco, dan lainlain. Sedangkan jenis tembakau yang banyak digunakan sekarang berasal dari species nicotiana tabacum.
Jenis jenis tembakau yang ada sekaran, biasanya diberi nama berdasarkan tempat asal tembakau tersebut terus menerus diusahakan. Telah disebutkan, bahwa kualitas tanaman tembakau banyak di pengaruhi oleh keadaan lingkungan, terutama faktor iklim dan tanah. Walaupun secara geneti tanaman tembakau tidak mengalami perubahan, namun secara fenotip tergantung pada keadaan lingkungannya. Hal ini menyebabkan jenis tembakau yang dihasilkan bebeda karena keadaamn lingkungan yang tidak sama. Dengan demikian semakin banyak nama – nama tembakau yang diusahakan berdasarkan negara asalnya, misalnya tembakau viginia yang berasal dari daerah viginia (Amerika), tembakau Turki berasal dari negara Turki. Demikian pula di Indonesia, banyak dikenal jenis- jenis tembakau berdasarkan daerah asal penananmannya, diantaranya tembakau Deli, Besuki, Payakumbuh, Bugis, Kedu, Siluk, Banyumas, Kediri, Lumajang, madura dan Rembang.
Umumnya, jenis- jenis tembakau tidak mudah dibedakan. Untuk memudahkan pembagiannya, berbagai jenis tembakau dibedakan berdasarkan waktu penanamannya dan penggunaannya.
Matnawi (1997) menyatakan, secara umum tembakau di Indonesia dapat dipisahkan menurut musim tanamnya yang terbagi menjadi dua jenis yaitu:
1. Tembakau Voor-Oogst
Tembakau semacam ini biasanya dinamakan tembakau musim kemarau atau onberegend. Artinya, jenis tembakau yang ditanam pada waktu musim penghujan dan dipanen pada waktu musim kemarau.
2. Tembakau Na-Oogst
Tembakau Na-Oogst adalah jenis tembakau yang ditanam pada musim kemarau, kemudian dipanen atau dipetik pada musim penghujan.
Berdasarkan bentuk fisiknya, tembakau di Indonesia dipasarkan dalam dua wujud, yaitu:
  1. Rajangan (slicing type)Tembakau rajangan sangat unik, dimana hanya terdapat di Indonesia saja. Tembakau dipasarkan dalam bentuk rajangan, dimana sebelum dipasarkan, terlebih dahulu dirajang sedemikian rupa, untuk selanjutnya dilakukan proses pengeringan dengan bantuan sinar matahari (sun cured). Berdasarkan tipe ukuran rajangannya, terbagi menjadi dua, broad cut (meliputi rajangan kasar dan sedang) dan fine cut (rajangan halus). Berdasarkan warna hasil fermentasi, tembakau rajangan dibagi menjadi dua, rajangan kuning dan hitam. Disebut rajangan kuning, sebab hasil fermentasi nantinya cenderung berwarna kuning, sedangkan rajangan hitam dikarenakan hasil fermentasi cenderung berwarna gelap.
  1. Krosok (leaf type) Krosok merupakan jenis yang paling banyak terdapat di dunia. Tembakau krosok dipasarkan dalam bentuk lembaran daun utuh, setelah melalui proses pengeringan. Harga tembakau krosok cenderung lebih mahal dari pada rajangan, sebab melalui tahapan yang panjang sebelum siap dipasarkan, mulai pengeringan hingga sortasi.

Berdasarkan metode pengeringannya, tembakau dibedakan menjadi:

1.    Air cured, adalah proses pengeringan daun tembakau dengan menggunakan aliran udara bebas (angin). Metode pengeringan ini memerlukan bangunan khusus (curing shed). Pengeringan dengan meode ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar gula rendah namun tinggi nikotin.
2.    Flue cured, adalah proses pengeringan daun tembakau dengan mengalirkan udara panas melalui pipa (flue). Tembakau yang tergolong jenis ini adalah tembakau Virginia FC. Menurut Anonim (2002a), prinsip pengeringan flue cured sangat sederhana, berkurangnya kelembaban secara perlahan selama 24 – 60 jam pertama (masa penguningan) diikuti hilangnya kadar air secara cepat hingga lamina mengering, yang diikuti mengeringnya gagang.
3.    Sun cured, adalah proses pengeringan dengan menggunakan sinar matahari secara langsung (penjemuran). Proses penjemuran untuk tembakau rajangan berlangsung selama 2-3 hari, sedang krosok selama 7-10 hari. Metode ini juga dipakai untuk pengeringan tembakau Oriental, yang menghasilkan kadar gula dan nikotin yang rendah.
4.    Fire cured, adalah proses pengeringan daun tembakau dengan cara mengalirkan asap dan panas dari bawah susunan daun tembakau. Berbeda dengan flue cured, dimana bara api tidak dibiarkan membara, melainkan dijaga agar tetap mengeluarkan asap. Bahan baku yang umum digunakan agar menghasilkan asap yang cukup antara lain kayu akasia yang dicampur dengan ampas dan bongkol tebu, sehingga diharapkan menghasilkan aroma yang harum dan manis. Pengeringan dengan meode ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar gula rendah namun tinggi nikotin.

Sentra Produksi dan Lokasi Tanam
Di Indonesia, tembakau yang baik (komersial) hanya dihasilkan di daerah-daerah tertentu. Kualitas tembakau sangat ditentukan oleh lokasi penanaman dan pengolahan pascapanen. Akibatnya, hanya beberapa tempat yang memiliki kesesuaian dengan kualitas tembakau terbaik, tergantung produk sasarannya.
Berikut adalah jenis-jenis tembakau yang dinamakan menurut tempat penghasilnya.
1.    Tembakau Deli, penghasil tembakau untuk cerutu
2.    Tembakau Temanggung, penghasil tembakau srintil untuk sigaret
3.    Tembakau Vorstenlanden (Yogya-Klaten-Solo), penghasil tembakau untuk cerutu dan tembakau sigaret (tembakau Virginia)
4.    Tembakau Besuki, penghasil tembakau rajangan untuk sigaret
5.    Tembakau Madura, penghasil tembakau untuk sigaret 

Pabrik Cerutu Taru Martani, Legenda Cigar van Java

Bagi anda para pecinta tembakau, tentu sangat menggembirakan bisa berkunjung ke Taru Martani, pabrik yang memproduksi cerutu sejak tahun 1918. Anda pasti akan merasa seperti berkunjung ke tempat soulmate yang menemani sepanjang waktu dilahirkan. Bagi anda yang tak suka menikmati tembakau, setidaknya bisa melihat sejarah panjang pabrik yang menghidupi banyak orang ini.

Taru Martani berdiri pertama kali di daerah Bulu, pinggir Jalan Magelang, dengan nama N.V. Negresco. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1921, pabrik itu pindah lokasi ke wilayahnya sekarang, Baciro, sebelah barat Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Pada masa penujajahan Jepang, nama pabrik sempat diubah menjadi Java Tobacco Kojo. Saat itulah pabrik ini mencapai kejayaannya karena didukung oleh mesin-mesin pembuat rokok putih yang didatangkan pemerintah Jepang dari B.A.T Cirebon.

Cukup mudah bila ingin berkunjung, anda tinggal merundingkan kedatangan dengan pengelola pabrik. Setelah mendapat ijin, anda bisa menjelajahi lokasi pabrik seluas 2 hektar ini dengan dipandu oleh salah seorang karyawan. Anda bisa melihat langsung dan bertanya apapun tentang proses produksi cerutu. Tak ada biaya yang harus dikeluarkan bila ingin mengunjungi pabrik ini, namun waktunya terbatas pada hari kerja, yaitu antara Senin hingga Jumat pukul 08.00 - 14.00 WIB.

Memasuki kawasan pabrik ini, anda bisa menikmati keindahan arsitektur Eropa. Hingga kini, setiap bagian bangunan, baik ruangan produksi maupun administrasi, masih tetap dipertahankan seperti semula sehingga nuansa arsitektur Eropa masih sangat kental. Kesan angker dan muram sama sekali tak terlihat meski usia bangungan sudah puluhan tahun, sebaliknya justru terkesan dinamis.

Produksi cerutu di pabrik ini melewati beberapa tahap. Pada tahap persiapan, tembakau kering yang sebagian besar diperoleh di wilayah Besuki, Jember, Jawa Timur dikeluarkan dari gudang untuk pembasahan selama semalam. Tujuannya agar lembab dan tidak rontok saat diolah. Daun tembakau kemudian dipisahkan menurut kualitas fisiknya, ada yang digunakan untuk campuran isi cerutu, (filler), pembungkus dalam (omblad/binder) dan pembungkus luar (dekblad/wrapper).

Tembakau yang telah disortir kemudian disiapkan untuk memasuki tahap pembuatan kepompong cerutu. Pada tahap ini, cerutu dibalut dengan omblad dan selanjutnya dilinting menggunakan dekblad. Di sinilah keunikan pembuatan cerutu Taru Martani, pelintingan cerutu masih mengandalkan ketrampilan para pekerja namun bisa menghasilkan ukuran yang relatif seragam satu sama lain. Selesai tahap ini, cerutu yang telah dilinting dipotong dan disortir.

Pada tahap terakhir produksi, cerutu memasuki tahap fumigasi, pendinginan, pengeringan dan fermentasi agar hama tembakau (lasioderma) mati. Tahap ini sangat penting sebab cerutu yang bebas hama akan memiliki umur simpan yang lebih panjang dan kenikmatannya pun lebih tahan lama. Selesai tahap tersebut, cerutu diberi label atau merek, dibungkus dan dikemas untuk selanjutnya didistribusikan ke konsumen.

Hingga saat ini, Taru Martani telah memproduksi 14 jenis cerutu, yaitu Cigarillos, Extra Cigarillos, Senioritas, Panatella, Half Corona, Corona, Super Corona/Grand Corona, Boheme, Royal Perfecto, Rothschild, and Churchill. Sementara sebagai variasinya, Taru Martani memproduksi cerutu dalam tiga aroma, yaitu nature cigar atau murni tembakau, flavour cigar atau tembakau dengan tambahan aroma (mint, vanila, rhum, hazelnut) dan mild cigar.

Beberapa merek cerutu legendaris pantas dibeli dan dicicipi ketika berkunjung. Senator dan Mundi Victor adalah cerutu utama yang mesti dicoba karena telah diproduksi sejak awal berdirinya pabrik ini, meski baru diberi merek pada tahun 1952. Cerutu lain yang pantas dicoba adalah Adipati, Ramayana dan Borobudur yang telah diproduksi sejak tahun 70-an. Bila menginginkan, anda juga dapat membeli tembakau rajang dengan merek Van Nelle, Drum, dan Countryman.

Mengunjungi Taru Martani dan mencicipi cerutu buatannya membuat anda menjadi bagian dari komunitas internasional pecinta cerutu bermutu. Sebab, produk cerutu Taru Martani yang dikenal dengan Cigar van Java ini telah dinimati oleh berbagai kalangan di penjuru dunia, mulai dari Asia, Belanda, Belgia, Jerman, Cekoslovakia, Amerika dan Eropa.

sumber yogyes.com
6.    Tembakau Lombok Timur, penghasil tembakau untuk sigaret (tembakau Virginia)

Panen dan Pascapanen dalam Budidaya Tembakau

tembakau krosok dan rajangan

Tipe Tembakau

Tipe tembakau berdasarkan bentuk keringya dibedakan menjadi tembakau krosok (leaf type) dan tembakau rajangan (slice type). Tembakau krosok merupakan tembakau yang paling banyak terdapat di dunia, sedangkan tembakau rajangan merupakan tipe tembakau asli Indonesia. Berdasarkan bentuk fisiknya, tembakau di Indonesia dipasarkan dalam dua wujud, yaitu:

1. Tembakau Rajangan
Jenis tembakau ini kebanyakan diusahakan oleh rakyat atau penduduk lokal setempat. Pembudidayaannya mulai dari penyemaian, penanaman, pemanenan dan pengolahan daun yang dilakukan oleh petani sendiri (swadaya). Oleh karena itu tembakau jenis ini hanya dikenal di Indonesia saja.
Sebelum dilakukan perajangan, terlebih dahulu dilakukan sortasi daun basah untuk memisahkan berdasarkan tingkat kematangan daun, kecacatan fisik dan posisi daun pada batang, serta pemeraman selama 2-7 hari agar terjadi proses pelayuan (keluarnya ± 30% air) dan penguningan (perubahan pigmen klorofil menjadi xantofil). Setelah dirajang, selanjutnya dikeringkan dengan bantuan sinar matahari (sun cured).

Waktu merajang yang paling baik adalah pada dini hari, dengan tujuan supaya daun yang telah dirajang memperoleh embun pagi. Bila waktu antara merajang dan menjemur terlalu lama maka mengakibatkan terjadinya proses oksidasi dan polimerisasi phenol sehingga tembakau rajangan berwarna lebih gelap dan aromanya berkurang karena penurunan kadar gula (mbanteng – bhs. Jawa).

Penjemuran dilakukan selama 2-3 hari, dimana tembakau ditata pada alas anyaman bambu. Setelah kering, selanjutnya diangin-anginkan, kemudian dikemas (plastik, keranjang atau tikar).
Berdasarkan tipe ukuran rajangannya, terbagi menjadi dua, broad cut (meliputi rajangan kasar dan sedang) dan fine cut (rajangan halus). Berdasarkan warna hasil fermentasi, tembakau rajangan dibagi menjadi dua, rajangan kuning dan hitam. Disebut rajangan kuning, sebab hasil fermentasi nantinya cenderung berwarna kuning, sedangkan rajangan hitam dikarenakan hasil fermentasi cenderung berwarna gelap.

2. Tembakau Krosok
Krosok merupakan jenis yang paling banyak terdapat di dunia. Tembakau krosok dipasarkan dalam bentuk lembaran daun utuh, setelah melalui proses pengeringan. Harga tembakau krosok cenderung lebih mahal dari pada rajangan, sebab melalui tahapan yang panjang sebelum siap dipasarkan, mulai pengeringan hingga sortasi.
Berdasarkan metode pengeringannya, tembakau krosok dibedakan menjadi:
1. Air cured, adalah proses pengeringan daun tembakau dengan menggunakan aliran udara bebas (angin). Metode pengeringan ini memerlukan bangunan khusus (curing shed). Pengeringan dengan meode ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar gula rendah namun tinggi nikotin.

2. Flue cured, adalah proses pengeringan daun tembakau dengan mengalirkan udara panas melalui pipa (flue). Tembakau yang tergolong jenis ini adalah tembakau Virginia FC. Prinsip pengeringan flue cured sangat sederhana, berkurangnya kelembaban secara perlahan selama 24 – 60 jam pertama (masa penguningan) diikuti hilangnya kadar air secara cepat hingga lamina mengering, yang diikuti mengeringnya gagang.

3. Sun cured, adalah proses pengeringan dengan menggunakan sinar matahari secara langsung (penjemuran). Proses penjemuran untuk tembakau krosok selama 7-10 hari. Metode ini juga dipakai untuk pengeringan tembakau Oriental, yang menghasilkan kadar gula dan nikotin yang rendah.

4. Fire cured, adalah proses pengeringan daun tembakau dengan cara mengalirkan asap dan panas dari bawah susunan daun tembakau. Berbeda dengan flue cured, dimana bara api tidak dibiarkan membara, melainkan dijaga agar tetap mengeluarkan asap. Bahan baku yang umum digunakan agar menghasilkan asap yang cukup antara lain kayu akasia yang dicampur dengan ampas dan bongkol tebu, sehingga diharapkan menghasilkan aroma yang harum dan manis. Pengeringan dengan meode ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar gula rendah namun tinggi nikotin.



Panen dan Pascapanen dalam Budidaya Tembakau

Panen dan Pascapanen
Waktu panen dan cara penanganan pasca panen tembakau sangat tergantung pada jenis tembakaunya. Berikut diuraikan pemanenan dan penanganan pasca panen beberapa jenis tembakau yang diusahakan di Indonesia.
Tembakau Burley BAT Bondowoso
Umur Panen
Kriteria waktu panen tembakau dapat dilihat dari gejala tingkat kematangan daun di pohon sebagai berikut
  • Daun bawah (3-4 lembar) mendekati kehijau-hijauan dan gagangnya keputih-putihan.
  • Daun tengah (4-6 lembar) berwarna “kuning kenanga”.
  • Daun atas (6-9 lembar) dan daun pucuk (4-7 lembar) telah matang benar.
Cara Pemetikan
Pemetikan daun tembakau Burley dilakukan dengan dua cara yaitu petik biasa (reaping) dan tebang batang ( stalk cutting). Reaping dilakukan dengan memetik daun-daunya saja, sedangkan stalk cutting dilakukan dengan menebang batang tembakau beserta daunnya tepat pada pangkal batang.
Untuk mendapatkan hasil yang tinggi tembakau burley biasanya diperlakukan reaping paling banyak dua kali dan selanjutnya stalk cutting. Pemetikan pertama daun tembakau Burley dilakukan pada saat tanaman berumur 65-70 har, dengan jumlah daun yang dipetik 2-3 lembar. Stalk cutting dilakukan apabila daun pucuk kelihatan sudah cukup tua (berwarna kuning) dengan umur tanaman 90-100 HST.
Saat pemetikan (pagi, siang dan sore) berpengaruh terhadap kualitas daun tembakau. Saat pemetikan tembakau burley yang baik adalah pada pagi hari.
Sortasi Pendahuluan
Sortasi pendahuluan dilakukan terhadap daun hijau tembakau Burley untuk memisahkan daun yang agak muda (immature), daun kurang tua (unripe), daun tua (ripe) dan daun yang rusak. Sortasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan proses pengeringan, memudahkan grading setelah pengeringan, memudahkan penentuan harga jual dan memudahkan pemasaran.
Pengeringan (Curing)
Dalam pengeringan dilakukan penurunan kadar air dari 80 – 90%. Selama pengeringan terjadi proses aging yaitu pembentukan warna dan pengeringan. Pengeringan dilakukan di dalam Los. Tembakau Burley ini termasuk ke dalam jenis pengeringan air cured. Pengeringan dilakukan selama ± 22 hari sampai diperoleh krosok yang baik. Setelah itu krosok diunting (diikat beberapa lembar krosok) kemudian dipak/dibal dengan bobot 1 bal 50 – 60 kg dan dibungkus dengan tikar.
Tembakau Cerutu Vorstenlanden
Pemetikan
Pemetikan daun dilakukan secara bertahap, kriteria tanaman siap dipanen yaitu setelah tanaman berumur 50 hari, 60 – 70% dari populasi telah membentuk kuncup bunga, warna daun “menongo bener” (hijau seperti bunga kenanga), sudut daun telah melebar atau merunduk daun mudah dipetik dan tanaman dalam kondisi segar. Jenis dan banyaknya daun yang akan dipetik terdiri dari : 2 lembar daun tanah/pasir (DT), 6 lembar daun koseran pertama (DKP) 10 lembar daun koseran atas (DKA), 4 lembar daun madya pertama (DMP) 6 lembar daun madya tengah (DMT) dan 4 lembar daun madya atas (DMA).
Pemetikan dilakukan pada pukul 06.00 – 08.00 pagi secara manual, pemetikan pada pagi hari akan menghasilkan krosok yang berwarna lebih cerah daripada sore hari.
Pengeringan
Pengeringan tembakau cerutu Vorstenlanden pada prinsipnya menggunakan sistem air curing. Tembakau dikeringkan di dalam Los dengan tinggi bangunan sekitar 12 m. Pada bagian atap dan dinding terdapat jendela yang berfungsi untuk mengatur kelembaban udara di dalamnya. Pada malam hari bila kelembaban udara terlalu tinggi, jendela ditutup dan dilakukan pengomprongan (pengeringan buatan dengan bahan sekam, kayu, atau briket batubara). Pada siang hari jendela dibuka agar kelembaban dalam ruang pengering tersebut turun. 1 Los (bangunan pengering) terdiri dari 30 kamar yang mampu menampung 2.100 dolok (1 dolok terdiri dari 50 lembar daun). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Los pengering adalah sortasi, sunduk, pendolokan dan penyusunan daun, penaikan dan pelolosan.
Setelah pengeringan dilakukan fermentasi yaitu proses biokimiawi yang melibatkan sejumlah enzim yang terdapat dalam krosok terhadap sulfat atau senyawa protein dan polisakarida. Dalam proses fermentasi terjadi perubahan-perubahan seperti penurunan berat 6-18 %, pembebasan tanah, penyerapan udara, pembebasan CO2, Pembebasan NH3 dan penurunan kadar air 14 – 20 %. Fermentasi juga menyebabkan terbentuknya aroma, warna krosok menjadi lebih gelap dan merata serta teksturnya lebih halus. Setelah fermentasi krosok kemudian disusun dalam tumpukan atau stapel berukuran 4 m x 5 m dengan berat 2 -2,5 ton. Stapel kemudian ditutup rapat sampai suhunya mencapai 42 – 430C. Selanjutnya krosok dipak dalam satu bal dengan berat 80 kg dengan ukuran panjang 100 cm lebar 70 cm dan tinggi 22 cm. Untuk penyimpanan di gudang dilakukan fumigasi untuk mencegah serangan serangga gudang dengan insektisida Phostoxin dengan dosis 0,75 tablet/m3 setiap 40 hari sekali.
Tembakau Rajangan Temanggung
Panen dilakukan secara bertahap, pemetikan daun sebanyak 5 – 8 kali tergantung kemasakan dan jumlah daun. Saat panen biasanya dimulai apabila sudah ada berita tentang dimulainya pembelian tembakau rajangan oleh pabrik rokok atau gudang mulai buka. Panen daun tembakau dilakukan 10 – 15 hari sebelum awal pembelian tembakau rajangan. Pemetikan daun dimulai dari bawah, dipetik 2 – 3 lembar daun setiap kali petik. Daun yang siap panen ditandai oleh perubahan warna daun, dari hijau menjadi kuning kehijauan, warna tulang daun putih/hijau terang, tepi daun mengering, permukaan daun agak kasar dan tangkai daun mudah dipatahkan. Waktu panen pagi hari setelah embun menguap sampai siang hari. Apabila waktu panen turun hujan, maka daun yang cukup matang segera dipetik atau ditunda 6-8 hari. Daun yang telah dipetik segera diproses atau diolah menjadi tembakau rajangan. Pengolahan tembakau rajangan terdiri dari 3 tahap kegiatan, yaitu Pemeraman, perajangan dan penjemuran.
Sebelum diperam, daun tembakau disortasi agar diperoleh daun hijau yang ukurannya seragam. Pemeraman dilakukan dengan cara mengatur daun, yaitu didirikan di rak pemeraman. Lamanya pemeraman tergantung dari posisi daun pada batang. Daun koseran ( daun bawah), lama pemeraman 1-2 malam (24 – 48 jam) dengan warna daun peraman hijau-kekuningan. Daun tengah memerlukan waktu peraman 3 – 5 malam (72-120 jam) dengan warna peraman hijau kekuningan sampai kuning merata. Sedangkan daun tengah yang tebal dan daun atas memerlukan waktu peraman 4 – 7 malam (96 – 168 jam) dengan warna daun peraman kuning merata sampai kuning kemerahan.
Setelah daun tembakau diperam, selanjutnya dilakukan perajangan. Perajangan dimulai pada tengah malam sampai pagi dengan tujuan hasil rajangan dapat segera dijemur pada pagi harinya. Tebal irisan (rajangan) daun tembakau temanggung antara 1.5 mm – 2.0 mm, pisau yang digunakan untuk merajang harus selalu tajam agar hasil rajangannya baik dan seragam. Setelah daun tembakau dirajang, kemudian tembakau rajangan dicampur merata (digagrak) dan diratakan di atas “widig” atau “rigen” untuk dijemur.
Penjemuran hasil rajangan harus kering dalam 2 hari, tergantung panas matahari. Pada hari pertama rajangan di balik apabila lapisan atas sudah cukup kering, pekerjaan ini dilakukan kira-kira pukul 10.00 – 11.00. Pada malam harinya, rajangan diembunkan untuk memperoleh warna hitam. Pada hari kedua, penjemuran dimulai pada siang hari sampai rajangan tembakau lemas kembali. Setelah rajangan tersebut kering, kemudian dimasukkan kedalam keranjang bambu. Di dalam satu keranjang berisi tembakau rajangan yang sama mutunya. Selanjutnya tembakau rajangan siap dijual ke “gudang perwakilan pabrik rokok” atau kepada “tengkulak pengumpul”.


Presiden Slovakia Kunjungi Taru Martani

PRESIDEN SLOVAKIA KUNJUNGI TARU MARTANI




JIBI/Harian Jogja/ Gigih M Hanafi
KUNJUNGAN PRESIDEN SLOVAKIA — Presiden Slovakia, Ivan Gasparovic (jas biru) beserta rombongan mengunjungi pabrik cerutu PD Taru Martani, Jogja, Selasa (11/10/2011). Kunjungan tersebut untuk menjajaki kerjasama dengan pabrik cerutu yang sudah berdiri sejak tahun 1918 tersebut.


presiden_ivan_gasparovic.jpg
skmagazine
Presiden Slovakia Ivan Gasparovic

TRIBUNKALTENG.COM, YOGYAKARTA - Presiden Slovakia, Ivan Gasparovic, melakukan kunjungan kerja di Kota Yogyakarta, salah satunya mengunjungi pabrik pembuatan cerutu Perusahaan Dagang (PD) Taru Martani yang berada di Kecamatan Gondokusuman, Selasa.

"Tidak ada pembicaraan bisnis dalam kunjungan ini. Beliau hanya ingin mengetahui pabrik pembuatan cerutu secara dekat sekaligus mengetahui sejarahnya," kata Direktur Utama PD Taru Martani, Abdul Nasir, usai menerima kunjungan Presiden Slovakia, Ivan Gasparovic.

Di pabrik pembuatan cerutu yang sebagian besar produknya diekspor tersebut, Gasparovic didampingi sejumlah delegasi dari negara di Eropa tengah tersebut meninjau pabrik sekaligus mencoba cerutu produksi Taru Martani yang selama ini dijual dengan merk Ramayana.

Abdul Nasir mengatakan, Presiden Slovakia cukup mengagumi cerutu buatan Taru Martani dengan mengatakan, bahwa cerutu yang dicobanya tersebut sebenarnya memiliki kualifikasi yang baik untuk diterima pasar di Eropa, seperti Slovakia.

"Namun, Bapak Presiden Slovakia mengatakan, bahwa negaranya sangat kecil. Sehingga pasarnya pun sempit. Karenanya, beliau belum bisa membantu banyak dalam memasarkan produk Taru Martani," katanya.

Nasir menambahkan, selama ini, produk cerutu dari Taru Martani biasanya diekspor ke sejumlah negara di Timur Tengah, Amerika Serikat (AS), Belanda, dan untuk memenuhi permintaan dalam negeri.

"Tetapi, akhir-akhir ini ada gerakan global untuk antimerokok, atau mengurangi konsumsi rokok. Bagaimanapun juga, tekanan tersebut berpengaruh pada distribusi produk kami," katanya.

Presiden Gasparovic, menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk meninjau pabrik cerutu yang setiap tahun mampu memproduksi sekitar 2,5 juta batang cerutu itu.

Sebelumnya, rombongan dari Slovakia juag melakukan kunjungan ke salah satu produsen perak di Kotagede yaitu HS Silver.

Selain mengunjungi Kota Yogyakarta, Presiden Gasparovic juga berencana melakukan kunjungan ke Kabupaten Sleman pada Rabu (12/110) untuk melihat dari dekat dampak erupsi Gunung Merapi yang terjadi tahun lalu, serta kondisi masyarakat pascabencana.

Kunjungan kemudian diakhiri dengan lawatan ke Candi Borobudur yang berada di Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Sebelumnya, di Jakarta, Pemerintah Slovakia dan Indonesia menyepakati kerja sama bilateral yang mencakup delapan bidang, dengan nilai 1,2 miliar dolar AS atau Rp10,8 triliun.

Delapan bidang tersebut meliputi sektor pangan dan pertanian, pengembangan energi terbarukan, perdagangan dan investasi, pembiayaan ekspor dan impor, media massa dan penyiaran, pendidikan, pariwisata serta pembangunan infrastruktur dan manufaktur.

Proses Penjemuran Tembakau dari Petik



Kredit foto:
Dzurriyah Nisa/ kabarbisnis.com
Tanggal:
Kamis, 12 Agustus 2010 | 15:33 wib ET
Para pekerja menjemur daun tembakau yang telah dipanen dari ladang pembakau milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X di Ajong Gayasan, Jember, akhir pekan lalu. Produksi tembakau PTPN X tahun ini mengalami penurunan sekitar 62% dari tahun lalu akibat menyusutnya order tembakau dari berbagai negara. Pada 2009, luas lahan tanam tembakau PTPN X mencapai 1.600 hektar dengan produksi sebesar 2.026 ton per tahun. Sementara pada tahun ini, luas lahan yang digunakan untuk menanam tembakau hanya mencapai 1.400 hektar dengan total produksi sekitar 1.900 ton per tahun.


Lokasi tembakau ini adalah di kabupaten jember.

Sebuah kabupaten yg terletak di timur pulau jawa. Pada lambang kabupaten jember terlihat gambar dua lembar tembakau, hal ini menandakan bahwa kabupaten jember merupakan salah satu pemasok tembakau terbesar se-nasional dan kehidupan perekonomian masyarakatnya kebanyakan ditopang oleh tembakau. Maka, tak ayal tanaman ini disebut ‘daun emas’


Quote:
FYI, jenis tembakau bukan hanya seperti yang TS ceritakan, namun masih banyak lagi jenis jenis tembakau lainnya dan harganya pun bervariasi, seperti tembakau rajangan, tembakau na oogst, dan tembakau virginia..
Gudang gudang pembeli tembakau pun banyak, seperti sampoerna, gudang garam, bentoel, djarum, dll. Jadi, selain perusahaan perusahaan itu mempunyai lahan sendiri, mereka juga melakukan pembelian kepada petani dan pedagang tembakau dengan rata rata tiap daerah memiliki permintaan 4000 ton tembakau per perusahaan.
Harganya pun untuk tahun ini sangat fantastis, untuk tembakau kelas super per kuintalnya adalah 4 hingga 4,5 juta rupiah dan untuk tembakau ‘bawah’nya dihargai sekitar 900rb hingga 1,2 juta.


Quote:
Berikut adalah gambar gambar yang diambil TS saat pemetikan hingga pengeringan tembakau.

Spoiler for proses pertama:

1. Proses pertama adalah Pemetikan. Pemetikan sendiri tidak bisa dilakukan sembarangan. Pemetikan dilakukan sesuai dengan ukuran tembakau yang dibagi menjadi tiga. Tembakau hang (ukuran kecil), tembakau middle (ukuran sedang) dan tembakau lokalan (ukuran paling besar).
Spoiler for tembakau hang:

Spoiler for tembakau middle:

Spoiler for tembakau lokalan:

Spoiler for lahan sebelum pemetikan:

Spoiler for proses pemetikan:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:


Spoiler for proses kedua:

2. Proses kedua adalah Pengumpulan Petikan. Setelah tembakau dipetik dari lahan, maka tembakau tembakau itu dikumpulkan menjadi satu namun pengumpulan didasarkan pada ukuran tembakau, seperti yang dijelaskan diatas.
Spoiler for pengumpulan petikan:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Spoiler for lahan setelah pemetikan:



Spoiler for proses ketiga:

3. Proses ketiga adalah Menggantung Tembakau. Maksudnya adalah tembakau digantung untuk proses pengeringan. Sebelum digantung, tembakau tembakau itu ditusuk oleh potongan bambu kecil yang dinamakan sujen.
Spoiler for sujen:

Setelah ditusuk menggunakan sujen, tembakau digantung pada batangan bambu bambu besar.
Spoiler for tembakau:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Spoiler for orang sedang mensujen:

Spoiler for orang sedang mensujen:

Spoiler for orang sedang mensujen:

Spoiler for penggantungan tembakau:



Spoiler for proses keempat:

4. Proses keempat adalah Proses Penjemuran. Pada proses penjemuran, tembakau yang telah disujen dijemur di tanah lapang sehingga warnanya berubah dari hijau menjadi kecoklatan.
Spoiler for sebelum dijemur:

Perhatikan setelah mengalami penjemuran, warnanya mulai coklat loreng loreng
Spoiler for saat penjemuran:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Spoiler for proses penjemuran:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Sudah mulai mencoklat
Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Spoiler for buka:

Kemudian tembakau tembakau itu dikumpulkan menjadi satu dan ditumpuk
Spoiler for dikumpulkan:

Spoiler for dikumpulkan:

Spoiler for dikumpulkan:

Spoiler for tembakau ditumpuk:



Quote:
Nah, setelah mulai proses pengeringan tadi, maka tembakau tembakau itu siap untuk dijual ke gudang dan ditumpuk menjadi bentuk menyerupai balok.
Spoiler for siap jual:

Seni Melinting Cerutu

The Art of Making Cigars

Published in Asian Geographic, 2nd Edition, 2012
Centuries after Columbus’ crews brought it out of the Caribbean to Europe, the habit of smoking cigars has evolved into a global culture. Colonialism took it along to regions afar. In my country Indonesia, for instance, it was the Dutch who brought it, and since then, a number of cigar factories have been established there since early 20th century.
Cigars now come in so many colours, shapes, and flavours, varying from greenish to dark-coloured, from the coronas (common shape, evenly cylindrical with round head) to the figurados (a varieties of irregularly shaped cigars), and from sweet to dry flavoured. The materials, too, have been produced in various places around the world, offering assorted qualities and characters. When we talk about why someone likes a certain cigar, its colours, shapes, and flavours are all contributing elements. But what makes cigars so special is how they are made.
A cigar can be either handmade, machine-made, or both. The finest cigars, however, are entirely handmade. The making process requires a very careful and precise handling from the beginning until the end. Similar to learning to play a musical instrument, mastering the knowledge and skills to fashion the filler (a huddle of tobacco leaves inside a cigar), the binder (the leaf that holds the filler together), and the wrapper (the outermost part) into a good cigar can take a very long time.
Manufacture can be divided into two broad stages, i.e. preparation and rolling. The first stage starts from cultivating tobacco: drying, fermenting, to striping the leaves. The rolling includes preparing the filler and wrapping it. While the preparation steps are mostly concerned with the science, the rolling process is all about the craftsmanship.
Best tobacco leaves are cultivated in tropical soils of Cuba and Brazil as well as Southeast Asian countries such as Indonesia and the Philippines. The process begins indoor, where the plant is seeded. After 6 to 10 weeks, the seeds are sown in an open land and pruned well so that they would yield leaves of a proper size. The leaves of different parts of a tobacco plant will provide various tastes and uses. Those for the wrapper must be kept from too much sunlight and from insects, usually using cloth to cover them. It may take several months before the leaves can be reaped. The wrapper may be taken from Jember, Indonesia while the filler from Havana, Cuba. When made entirely of leaves from a single country, a cigar will be called puro (pure).
The leaves are then taken into an airy barn for drying. They are usually hung on wooden strips until their green colour turns yellowish-brown. A close watch on the leaves must be kept to make sure they do not get overly dry.
Fermentation comes afterwards. This is where the aroma and taste of tobacco will develop. When the leaves are cured, they will be classified based on their colour and size. They are grouped into bunches of tens then each packed and kept in boxes. The fermentation would take between six months and five years. Tobacco leaves for the best cigars are usually fermented for at least two years. Sorting out is done again, this time more carefully.
A fermented leaf would then be stripped off its main vein manually. This may look like a piece of cake as you see a worker at a tobacco factory do it very quickly. But try it yourself and you will change your mind just as quickly. The leaves must remain intact. They cannot have any holes or tears. A well-trained worker will do this by firstly folding the leaf in half following the main vein. He will then hold the vein on both ends. One of the tips of the vein is twitched out using one hand, then by pulling that tip, the leaf is rolled on the other hand’s wrist to strip the vein off all the way down. The leaves are then ready.
The two remaining steps require special skills, as it is this that determines the aesthetic aspects of a cigar. We start with making the filler. There is a lot of inventiveness going on in this step as tobacco leaves of distinct characters are blend to create the desired taste. There are three types of leaves for the filler. The seco, taken from the middle of a tobacco plant, will give much of the cigar’s flavor; the volado, from the bottom of the plant, is for the burning; and the ligero, from the upper part of the plant, will provide strength. Usually there will be between two and six of these leaves in a filler. The ligero is usually placed in the middle as it is the slowest to burn. The leaves are stacked and rolled firmly in a binder, which is often a leaf that is torn or imperfect in colour. It will not be visible, so the most important thing is that it can hold the filler well.
Lastly, the filler is wrapped, a step that is often considered the most difficult. First of all, a well-textured, moist wrapper leaf is spread on a flat wooden surface and trimmed using a rounded knife called chaveta; in other places, like in Yogyakarta, Indonesia, a circular knife with a wooden handle is used instead.  So the wrapper starts life as a sort of curved tobacco belt. The filler is then delicately rolled into the wrapper. At the same time, the wrapper must be stretched out with just enough force to avoid wrinkles and tearing. After about three and a half rolls, the wrapping will reach the end of the filler. The remaining of the wrapper is cut around, then after tasteless vegetable glue is applied to it, rolled again to finish the cap; pectin (extracted from citrus fruits) is often used as glue, though a paste made of rice starch is used in Indonesia. Cuban cigars are known for their triple caps, which demand more complex skills to create.
The tobacco, the filler, and the wrapper are responsible for the flavour of a cigar. The oilier a tobacco leaf, the less dry it will taste. The dark-coloured wrapper will add a sweet nuance to the flavour, while the light-coloured will make it drier. All this makes an expert cigar maker like a skilled composer: he must be able to make use of the materials on hand harmoniously, bringing them together into an exquisite opus.
Say what you wish about the cigar’s disservice to health, but there’s no denying the artistry infused into every cigar you cut and ignite. “Sometimes,” twenty-a-day- man Sigmund Freud once supposedly told colleagues challenging him on the cigar’s phallic shape, “a cigar is just a cigar.” Well, sometimes a cigar can also be a work of art.


Cerutu Kuba

Tak Sepanjang Kretek Indonesia

Di mata para juragan hecho en Cuba alias cerutu Kuba, Indonesia ibarat la tierra prometadora, sebuah tanah yang menjanjikan. Jangan heran. Kuba maupun negara-negara penghasil cerutu terbaik sedunia tak pernah alpa menoleh ke Indonesia saban kali mereka membutuhkan bahan baku cerutu. Daun tembakau Deli di Sumatera, misalnya. Kuat dan punya warna yang matang, daun tembakau Deli banyak dipakai sebagai pembalut luar cerutu. Dunia internasional juga mengenal Besuki Na Oogst (BNO), daun tembakau yang dihasilkan di Besuki, Jember, yang cocok dipakai sebagai pembalut, pengikat atau pembungkus, bahkan pengisi cerutu. Tembakau Besuki, yang mengharumkan nama Jawa Timur, unggul dalam karakter elastisitas, rasa, serta warna daun yang cokelat kehitaman.
Tradisi cerutu Indonesia berasal dari Belanda. Tak jelas, apa dan siapa pabrik cerutu pertama di Hindia Belanda. Namun, yang tertua dan masih bertahan sampai sekarang adalah Industri Bobbin PTPN X di Desa Jelbuk, Jember. "Usia tembakau di sini hampir dua abad," ujar Kuntjoro, konsultan sekaligus pengelola Bobbin PTPN X Jelbuk, Jember. Cikal-bakalnya adalah perkebunan tembakau milik pengusaha Belanda bernama George Bernie. Dia mendapatkan hak guna usaha di Jenggawah, Jember. Bernie menanam tembakau jenis BNO dan ternyata berkualitas tinggi. Setelah itu, sejumlah badan hukum Belanda ikut mengelola perkebunan tembakau.
Ada tiga jenis cerutu yang diproduksi di Jember. Jenis cerutu berbatang pendek (small cigar), sedang (soft filler), dan panjang (long filler). Mengisi pasar dalam negeri maupun mancanegara, cerutu Indonesia buatan Jember memiliki beberapa merek yang cukup dikenal, seperti Bali Djanger, Bali Legong, Bali Kecak, serta MD Long Panatella.
Pabrik cerutu lokal lain adalah Perusahaan Daerah Taru Martani di Yogyakarta. Tadinya milik warga Belanda bernama Habrachen, pada masa pendudukan Jepang, usaha pembuatan cerutu ini berganti nama menjadi Jawa Tobaco Kojo. Cerutu yang dibuat saat itu bermerek Momo Taro. Setelah Indonesia merdeka, Sultan Hamengku Buwono IX mengambil alih pabrik itu dan mengganti namanya menjadi Taru Martani. Artinya daun yang menghidupi.
Pada masa awal kemerdekaan, Taru Martani memproduksi cerutu merek Daulat. Sempat macet pada masa agresi Belanda kedua, produksi berjalan kembali pada 1952. Mereknya pun mulai meniru-niru bahasa Spanyol: Senator, Mundi Victor, Elcomercia, dan Cigarillos. Perusahaan ini sempat menjajal pasar Belanda pada 1972. Mereka menggaet perusahaan rokok Belanda Douwe Egberts Tabaksmaatchapij BV di Utrecht. Masuknya perusahaan Belanda ini sekaligus menjadi titik tolak produksi cerutu bermerek Indonesia seperti Adipati, Ramayana, dan Panther, selain mempertahankan produksi cerutu bermerek asing seperti Senator dan Mundi Victor.
Kini ekspor Taru Martani melebar ke Belgia, Jerman, dan Amerika Serikat-sepertiga bagiannya dilepas di pasar domestik. Produk yang diekspor umumnya berbentuk cerutu polosan alias tanpa merek. Direktur Utama Taru Martani, Bimo N. Wartono, menjelaskan bahwa cerutu mereka mengandalkan tembakau Besuki, Havana, dan Brasil. Godaan "bermain cerutu" juga melanda PT Djarum Kudus. Pada 1990, perusahaan rokok ini masuk ke bisnis ini. Menurut Thomas Budi Santoso, Direktur Produksi Djarum Kudus, mereka menargetkan cerutu buatan Indonesia yang berkualitas. Untuk itu, Djarum meramu campuran tembakau lokal Jawa dan Deli serta tembakau Bahia dari Brasil dan Kuba.
Hasilnya? Cerutu kretek merek Cigarillos. Menyusul tahun 1997, Djarum memproduksi cerutu natural ukuran sedang. Mereknya, antara lain, Dos Hermanos untuk pasar domestik serta Don Roberto untuk pasar internasional-terutama ke Eropa. Pemain lain yang masuk belakangan adalah Wismilak Surabaya. Mereka membuat cerutu bermerek Wismilak Premium.
Menurut pencinta cerutu, cerutu Indonesia masih kalah rasa. "Meski bahan baku berlimpah, kita kalah teknik dan pengalaman," kata Kastorius Sinaga, sosiolog yang juga pencinta berat cerutu, kepada TEMPO.
Alhasil, Kuba dan Dominika, yang tradisi cigar-nya jauh lebih tua, masih kukuh bertahan sebagai raja cerutu dari masa ke masa.
A.A.K., Bandelan Amarudin (Kudus), Heru Nugroho (Yogya), Mahbub Djuanedi (Jember)